Minggu, 12 April 2009

Jalan ke Jogja Yuk!!!

Banyak jalan menuju Roma, begitu pula banyak jalan menuju Jogja. Ada dua pilihan utama untuk ke Jogja, yaitu jalur darat atau via udara. Yang darat bisa pilih bis atau kereta api. Dari semua kota di Jawa sangat mudah untuk menemui bisa yang jurusan Jogja. Jika anda dari Jakarta sebut saja "Lorena", "Safari Dharma Raya (OBL)" untuk kelas atas, harga tiketnya berkisar 150-200 ribu. Yang kelas menengah tetapi tetap nyaman, bis bagus dan AC ada "Rosalia Indah" atau "Nusantara", harga tiket sekitar 110-150 ribu. Kalau mau naik KA dari Gambir anda bisa memilih "Taksaka" atau "Argo Lawu" jurusan Solo, tersedia jadwal pagi maupun malam, harga tiket sekitar 180-230 ribu tergantung hari padat atau tidak. Jika anda berangkat dari arah timur, Surabaya dan sekitarnya, pilihannya lebih banyak dan relatif lebih murah, jadwal berangkat pun lebih sering. Harga tiket bis eksekutif dari Surabaya di seputaran 100 ribu.

Hampir semua maskapai nasional memiliki jalur Jakarta-Jogja. Harga tiket untuk yang kelas promo di seputaran angka 200 ribu. Tapi jika pada musim libur harga bisa melonjak jauh. Bandara Adi Sucipto sekarang sudah banyak berbenah, untuk mencapainya kita bisa naik atau "Trans Jogja" atau KRD karena telah dibangun stasiun di depan bandara.

Penginapan
Banyak penginapan murmer (murah-meriah) di Jogja. Kalo yang cukup nyaman dan tidak jauh dari kota bisa pilih penginapan di sekitar Malioboro, harga kamar paling murah sekitar 150 ribu tiap malamnya. Kalau mau deket kampus UGM, kali ada saudaranya yang wisuda, pilih aja di Jalan Kaliurang, sekitar UGM atau lebih ke utara lagi. Banyak pilihan hotel yang murmer dan tentu saja nyaman.

Ayo ke Jogja!!

Info KA Jakarta-Jogja
http://infoka.kereta-api.com/cari/?id_station1=2&id_station2=19&x=34&y=8

Sabtu, 11 April 2009

"Nongkrong Spot" di Jogja


Jangan lewatkan malam panjang anda di Jogja. Setelah lelah seharian menikmati wisata di Jogja dan sekitarnya maka saatnya malam untuk menikmati hangatnya kota Jogja. Banyak titik-titik yang bisa dikunjungi di Jogja saat malam hari dan sejauh mata memandang mudah terlihat muda-mudi, mahasiswa yang belajar di Jogja, hal itu semakin menguatkan sebutan Jogja sebagai Kota Pelajar. Beberapa titik yang recommended untuk dikungjungi:

Malioboro

Malioboro, nama yang tak asing di telinga masyarakat jogja. Ini adalah satu titik teramai di Jogja, banyak hal yang bisa ditemui di Malioboro. Dari pasar tradisional hingga pasar modern, dari dokar (atau andong) sampai deretan mobil-mobil yang memadati ruas jalan Malioboro, dan begitu banyak komunitas yang nongkrong di malam hari di sudut-sudut Malioboro.

Para pedagang kaki lima yang bertebaran di sepanjang trotoar jalan Malioboro sangat menarik perhatian bagi kita yang berkunjung ke Malioboro. Segera aja parkir kendaraan anda dan nikmati PKL sepanjang trotoar sepanjang Malioboro dengan berjalan kaki. Banyak macam yang dijual oleh para PKL di sepanjang Malioboro, barang-barang jualan tersebut didominasi oleh barang-barang kerajinan. Sebelum membeli siapkan dulu jurus menawar yang jitu biar bisa dapat harga yang wajar.

Bila telah lelah berjalan kita bisa menikmati lesehan di pinggiran jalan Malioboro. Sekarang lesehan di Malioboro lebih tertib, harga-harga resmi telah terpampang. Maka dari itu jangan segan-segan untuk menikmati lesehan di Malioboro. Bisa kita pilih menu seperti ayam goreng, bebek goreng, ada juga gudeg.

Bila anda jalan-jalan di Malioboro sebelum matahari terbenam, di ujung selatan jalan Malioboro ada pasar Beringharjo. Di situ kita bisa belanja batik, berbagai macam batik dengan berbagai macam motif, model, dan kualitas bisa kita dapatkan. Bila kita teruskan perjalanan semakin ke ujung selatan jalan Malioboro maka kita mengunjungi Benteng Vredeburg, benteng peninggalan Belanda yang dulu digunakan Belanda untuk mengawasi Kraton Jogja. Di belakang itu ada pusat buku murah, yang dikenal dengan shoping. Jangan lewatkan berburu buku di tempat ini, pasti lebih murah dan tersedia berbagai macam judul yang baru maupun lama.

Alun-alun

Alun-alun tempat yang asik juga untuk nongkrong. Alun-alun bagaikan halaman Kraton tetapi terpisah dari istana. Ada yang khas di alun-alun Jogja, baik alun-alun utara atau selatan terdapat dua pohon beringin, masyarakat sering menyebutnya beringin kembar. Di alun-alun utara beringin yang satu nampak lebih kecil itu karena tumbang menjelang Reformasi Mei 1998.

Alun-alun selatan selalu ramai setiap malam karena atraksi untuk jalan melalui antara kedua beringin kembar tersebut, para pengunjung jalan dari tepi alun-alun dengan mata yang ditutup kemudian berjalan ke arah tengah alun-alun menuju antara kedua beringin tersebut. Jika mampu jalan lurus hingga mencapai antara kedua beringin tersebut diyakini keinginannya dapat terpenuhi.

Jalan Solo

Ini adalah jalan yang lebar dan terang di malam hari dan pada malam hari banyak muda-mudi yang nongkrong di sepanjang jalan ini. Banyak komunitas yang janjian untuk ketemuan di jalan ini sehingga jalan ini menjadi ramai, tetapi bila anda jalan hanya dengan beberapa kawan jangan berkecil hati. Anda bisa menikmati gudeg yang ditawarkan oleh ibu-ibu sepanjang sisi jalan solo. Pusat perbelanjaan modern juga ada di Jalan Solo, ada dua buah. Yang pertama Ambarukmo Plaza, orang jogja sering menyebutnya "Amplas" dan yang satunya lagi Saphir Square.

Mengapa disebut "Jalan Solo"? Karena jalan ini kalau kita terus ke arah timur maka akan sampai ke kota Solo. Banyak jalan dengan sebutan serupa di Jogja, seperti "Jakal" yaitu Jalan Kaliurang, jika kita terus ke utara maka sampai ke Kaliurang. "Jamal" yaitu Jalan Magelang, jika kita terus bisa mencapai kota Magelang, atau jika kita mau ke Borobudur bisa melewati jalan ini.

Kali Code

Malam di Jogja menarik juga untuk dinikmati di sisi Kali Code. Di sisi kali ini terdapat banyak ankringan lesehan. Minuman hangat, gorengan, dan "sego kucing" bisa menemani kita sambil bercengkrama dengan teman-teman.Jangan khawatir soal harga, semuanya ekonomis.

Pakualaman

Seperi Kali Code, di depan halam Istana Pakualam atau lebih akrab di sebuat Pakualaman kita juga bisa nongkrong. Ngobrol lepas dengan teman-teman kita dan hidangan khas angkringan bisa kita nikmati disini. Sebungkus nasi kucing, beserta sate usus, dan susu jahe sangat nikmat dinikmati di malam hari.

SunMor @ UGM

Bila malam minggu telah kita lewati di tempat-tempat di atas maka keesokan harinya, di hari minggu pagi enak bila kita jogging atau sekedar jalan-jalan di pelataran kampus UGM. Setelah selesai kita olahraga ringan di sekitar pelataran UGM maka kita bisa menikmati pasar kaget yang menjual berbagai macam barang. Kalau lapar kita juga bisa makan lontong opor, pecel, dan lain-lain yang banyak dijajakan di situ. Pasar Kaget ini hanya ada di hari minggu pagi, sebutan kerennya adalah Sunday Morning atau disingkat "SunMor".

Gudeg "Nyum-Nyum"


Menyebut gudeg Jogja, otomatis ingatan kita akan tertuju pada sebuah kampung yang terletak di sebelah timur Alun-alun Utara Kraton Jogja. Dari kampung inilah, masakan khas yang berbahan dasar ‘gori’ ini menjadi populer hingga seantero dunia. Tak heran wisatawan yang berkunjung ke Jogja rasanya kurang lengkap jika belum menyantap gudeg di tempat ini.

Warung gudeg yang berderet di sebelah selatan Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) ini memiliki sejarah panjang. Ibu Slamet adalah orang pertama yang merintis usaha warung gudeg di tahun 1942. Beberapa tahun kemudian warung gudeg di daerah itu bertambah dua, yakni Warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang kemudian dikenal dengan sebutan Gudeg Yu Djum yang begitu terkenal sampai sekarang.

Ketiga warung gudeg tersebut mampu bertahan hingga 40 tahun. Sayangnya, tahun 1980’an Warung Campur Sari tutup. Baru 13 tahun kemudian muncul satu lagi warung gudeg dengan label Gudeg Ibu Lies. Dan sampai sekarang, warung gudeg yang berjajar di sepanjang jalan Wijilan ini tak kurang dari sepuluh buah.

Gudeg Wijilan memang bercita rasa khas, berbeda dengan gudeg pada umumnya. Gudegnya kering dengan rasa manis. Cara memasaknya pun berbeda, buah nangka muda (gori) direbus di atas tunggu sekitar 100 derajat celcius selama 24 jam untuk menguapkan kuahnya.

Sebagai lauk pelengkap, daging ayam kampung dan telur bebek dipindang yang kemudian direbus. Sedangkan rasa pedas merupakan paduan sayur tempe dan sambal krecek.

Ketahanan gudeg Wijilan ini memang cocok sebagai oleh-oleh, karena merupakan gudeg kering, maka tidak mudah basi dan mampu bertahan hingga 3 hari. Tak heran jika gudeg dari Wijilan ini sudah “terbang” ke berpabagi pelosok tanah air, bahkan dunia.

Harganya pun variatif, mulai dari Rp 20.000,- sampai Rp 100.000,-, tergantung lauk yang dipilih dan jenis kemasannya. Bahkan ada yang menawarkan paket hemat Rp 5.000, dengan lauk tahu, tempe, dan telur.

Seperti kemasan gudeg-gudeg di tempat lain, oleh-oleh khas Jogja ini dapat dikemas menarik dengan menggunakan ‘besek’ (tempat dari anyaman bambu) atau menggunakan ‘kendil’ (guci dari tanah liat yang dibakar). Yang lebih unik, beberapa penjual gudeg Wijilan ini dengan senang hati akan memperlihatkan proses pembuatan gudegnya jika pengunjung menghendaki.

Bahkan, di warung Gudeg Yu Djum menawarkan paket wisata memasak gudeg kering bagi Anda yang ingin memasak sendiri. Anda akan mendapat arahan langsung dari Yu Djum. Seharian penuh Anda akan belajar membuat gudeg, dari mulai merajang ‘gori’, meracik bumbu, membuat telur pindang, sampai mengeringkan kuah gudeg di atas api.

Melengkapi sajian nasi gudeg Wijilan akan lebih pas disertai minuman the poci gula batu. Dijamin Anda akan ketagihan.

Selain tersebut di atas masih banyak tempat untuk menikmati Gudeg di Jogja, bagi anak muda yang tinggal di Jogja menikmati malam panjang akan lebih lengkap jika makan Gudeg. Maka dari itu dapat dengan mudah menemukan penjual gudeg di seputaran jalan solo, salah satu tempat nongkrong kawula muda Jogja. Ada juga gudeg di belakang pasar Kranggan, bukan hanya menjelang tengah malam hingga dini hari dan dapat dipastikan selalu ramai. Nongkong asik, perut pun kenyang. Memang gudeg jogja "nyum-nyum".